Prosa Fiksi dan Strukturnya
NAMA :ATHALILAH NUR ZUBAID
NIM :22016088
PRODI : PENDIDIKAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA DAN DAERAH
PROSA FIKSI DAN STRUKTURNYA
Pengertian Prosa
Prosa adalah karangan bebas yang dapat berupa cerita atau kisah berplot hingga ke pembahasan suatu gagasan atau pertanyaan yang berasal dari cerminan kenyataan dan atau dari informasi dan data yang sesungguhnya berdasarkan fakta ilmiah.
Dapat dikatakan pula bahwa sederhananya, prosa adalah genre lain dari sastra selain puisi dan drama. Seperti pendapat Muliadi (2017, hlm. 1) yang menyatakan bahwa prosa adalah salah satu jenis dari genre sastra, di samping genre lainya seperti puisi dan drama.
Namun sebetulnya prosa memiliki makna yang lebih luas lagi. Sejatinya, prosa diambil dari kata bahasa Inggris, prose yang mengacu pada pengertian luas dan tidak hanya merujuk pada salah satu genre tulisan sastra, tapi juga karya non fiksi, seperti esai, artikel, rubrik eksposisi, dan sebagainya.
Sementara itu, prosa dalam artian suatu kisah yang merangkai berbagai peristiwa berdasarkan imajinasi seperti novel, cerpen dan novelet lebih tepat disebut dengan istilah prosa fiksi, atau cerita fiksi, untuk kemudian menjadi salah satu dari dua jenis prosa menurut isinya, yaitu: prosa fiksi dan prosa nonfiksi. Berikut ini adalah pemaparan mengenai prosa fiksi dan non fiksi.
Prosa Fiksi
Menurut Aminuddin dalam Djuanda dan Iswara (2006, hlm. 158) Prosa fiksi adalah kisahan atau cerita yang diemban oleh pelaku-pelaku tertentu dengan pemeran, latar serta tahapan dan rangkaian cerita tertentu yang bertolak dari hasil imajinasi pengarangnya sehingga menjalin suatu cerita.
Intinya, prosa fiksi adalah kisah yang memiliki pemeran, latar serta tahapan rangkaian peristiwa yang dihasilkan oleh imajinasi penulisnya sehingga menjalin suatu kesatuan kisah.
Imajinasi di sini dapat berarti cerminan kenyataan dari berbagai pengalaman, pengetahuan dan literasi penulisnya. Seperti pendapat Saryono (2009, hlm.18) bahwa sastra memiliki kemampuan untuk merekam pengalaman yang empiris-natural maupun pengalaman yang nonempiris-supernatural.
Hanya nama-nama pemeran, nama tempat dan kisahnya saja yan dikarang. Sementara latar umumnya bisa jadi merupakan kenyataan. Namun perlu digarisbawahi bahwa cara pandang dan sikap Penulis juga akan ikut tercurahkan, sehingga tulisannya akan tetap memiliki karakteristik yang unik dan subjektif berdasarkan pendapat Penulis.
Unsur Prosa Fiksi (Struktur Prosa)
Unsur pembangun dari Fiksi terbagi menjadi dua. Pertama adalah unsur ekstrinsik yang berarti unsur yang berada di luar teks namun tetap saling berpengaruh terhadap penciptaan karya. Kedua, adalah unsur intrinsik yang hadir di dalam teks itu sendiri dan membangun keutuhannya.
Unsur-unsur intrinstik dari prosa meliputi beberapa poin di bawah ini.
- Tokoh
dan Penokohan
Tokoh dan penokohan adalah pelaku cerita dengan sifat dan peranannya masing-masing. Tokoh dapat diklasifikasikan menjadi: a. Protagonis, tokoh utama, b. Antagonis, tokoh yang memiliki konflik dengan Protagonis, c. Tokoh berkembang yang berarti mengalami perubahan watak atau pandangan dalam cerita, d. Tokoh statis, yang tidak mengalami perubahan dalam prosa. - Alur
dan Pengaluran / Plot
Alur adalah rangkaian peristiwa yang saling berhubungan karena hubungan sebab-akibat. Plot setidaknya akan terdiri dari: a. orientasi, masa pengenalan tokoh dan dimulainya konflik b. komplikasi, masa konflik mulai berkembang dan memuncak menjadi klimaks c. resolusi, adalah masa penyelesaian konflik. - Latar
Latar adalah tempat, hubungan waktu, dan lingkungan, keadaan sosial dan tempat terjadinya peristiwa-peristiwa yang diceritakan (Abrams, 1981:175). - Gaya
Bahasa
Gaya bahasa merupakan cara mengungkapkan bahasa untuk mencapai efek estetis dan memiliki kekuatan daya ungkap yang menggugah seperti majas dan pemilihan diksi yang indah. - Sudut
Pandang.
Sudut pandang adalah cara menyampaikan cerita seperti sudut pandang pertama (Aku) dan sudut pandang ketiga (Dia, mereka). - Tema
Tema merupakan inti pokok gagasan dari keseluruhan cerita atau kisah. Misalnya tema kasih sayang, kekuasaan, isu sosial, feminisme, dsb. - Amanat
Amanat berarti pesan kebaikan yang dapat ditarik dari cerita yang disampaikan. Amanat biasanya tidak disampaikan secara langsung namun dikemas rapi dalam keseluruhan isi prosa.
Berdasarkan perkembangannya, prosa fiksi dapat dibagi menjadi dua jenis, yaitu prosa baru (modern dan prosa lama. Berikut ini adalah penjelasannya.
Prosa Baru (Modern)
Prosa baru adalah karya yang penulisannya telah terpengaruh budaya modern Barat. Literasi Barat merupakan pusat peradaban berbagai pemikiran inovatif dan baru di dunia di zaman modern (1970-an). Sehingga rumusan baru mengenai sastra juga muncul di sana dan diadopsi oleh seluruh dunia.
Ciri Prosa Baru
- Bersifat dinamis, yang berarti mengikuti perkembangan zaman masyarakatnya.
- Masyarakat sentris, artinya prosa mengungkap hal sehari-hari yang terjadi di kalangan masyarkat
- Memperhatikan urutan peristiwa, melalui pengolahan unsur Alur dan Pengaluran yang disusun dengan lebih apik.
- Bersifat rasional, meskipun terkadang masih meminjam mite dan legenda tertentu, tetap dibedah secara logis.
- Penulis tidak anonim, dan bentuknya sudah berupa tulisan saja.
Jenis Prosa Baru
Secara bentuk, tentunya prosa baru juga dapat dikelompokkan menjadi beberapa jenis pula. Beberapa jenis prosa fiksi baru adalah sebagai berikut.
Cerpen
Cerpen adalah akronim dari “cerita pendek” yang merupakan cerita berbentuk prosa yang hanya fokus terhadap satu tokoh, latar atau situasi saja, sehingga bentuknya lebih sederhana dan berdurasi pendek.
Namun pendek di sini tidak hanya karena ceritanya saja yang berdurasi pendek. Jakob Sumardjo dan Saini (1995, hlm. 30) berpendapat bahwa ukuran pendek dalam cerpen lebih didasarkan pada keterbatasan pengembangan unsur-unsurnya, cerpen memiliki dampak tunggal dan tidak kompleks.
Novelet
Novelet adalah kisah yang ceritanya lebih panjang dari cerpen, tetapi masih lebih pendek dari novel. Penggarapan unsurnya seperti tokoh, alur dan latar jauh lebih luas cakupannya jika dibandingkan dengan cerpen, namun masih terhitung sempit jika dibandingkan novel. Jumlah halaman novelet berkisar dari 60 – 150 halaman.
Novel
Novel adalah kisah berplot yang jangkauan cerita, latar dan tokohnya luas dan memiliki runutan peristiwa yang panjang dan kompleks. Berbeda dengan cerpen yang ceritanya tunggal dan dapat diselesaikan dalam satu duduk (30-60 menit), novel memiliki cerita berlapis yang dapat dilanjutkan ke buku novel lainnya.
Kata novel berasal dari bahasa Itali, yaitu novella, dan memiliki makna barang baru kecil. Sebelum berkembang menjadi novel, novella dapat disepadankan dengan cerpen, ceritanya pendek dan hanya fokus membahas satu cerita atau latar, bisa juga sedikit lebih detail. Novella baru berkembang menjadi novel ketika jenis prosa ini mulai banyak ditulis di Inggris dan Amerika.
Roman
Roman adalah cerita yang menceritakan kisah seorang tokoh secara mendetail dan menyeluruh dari lahir hingga akhir hayatnya. Roman adalah bentuk klasik dari cerpen, biasanya penulisnya juga masih anonimus. Meskipun masuk ke dalam kategori sastra klasik namun tidak menutup kemungkinan masih ditulis di zaman sekarang.
Prosa Lama (Klasik)
Prosa lama adalah tulisan cerita atau kisah yang belum mendapatkan pengaruh budaya modern Barat. Tulisan ini biasanya bersifat anonim (tidak ada penulis tunggal) dan menyebar dari mulut ke mulut secara lisan dan tulisan terbatas.
Ciri Prosa Lama
- Statis, cerita dikisahkan secara turun-temurun, sehingga tidak mengalami perubahan yang signifikan.
- Sedikit Diferensialisasi (Varian), suatu legenda bisa jadi masih yang itu-itu saja, hanya mengalami sedikit perubahan di suatu daerah.
- Berpusat di Istana, Dalam artian cerita lebih banyak mengisahkan tokoh-tokoh kerajaan dan kelas atas atau orang yang luar biasa.
- Bersifat Anonim, tidak diketahui siapa penulis aslinya dan terus sedikit berubah tergantung dari penutur selanjutnya
- Menyebar dengan cara lisan, tidak ada naskah pasti yang dapat dijadikan sebagai patokan tulisan orisinalnya.
Jenis Prosa Lama (Klasik)
Seperti prosa baru, prosa lama juga dapat dikategorisasikan menjadi beberapa jenis. Jenis-jenis prosa lama atau klasik adalah sebagai berikut.
Dongeng
Merupakan cerita yang sepenuhnya hasil imajinasi dan khayalan yang menggunakan gaya estetika klasik dari suatu daerah tertentu.
Fabel
Fabel adalah cerita rekaan yang bersifat alegori atau simbolisme secara utuh; keseluruhan cerita menggunakan simbol bintang yang memanusia sebagai pengganti tokoh manusia itu sendiri.
Hikayat
Hikayat adalah cerita yang biasanya bertemakan seperti sejarah maupun roman fiksi yang disampaikan melalui gaya dramatis, bernilai semangat juang, pelipur lara hingga sebagai hiburan untuk merayakan sesuatu. Contoh: Hikayat Seribu Satu Malam, Hikayat Hang Tuah, dll.
Legenda
Legenda menceritakan asal-usul suatu tempat, benda atau tokoh hingga kejadian fantastis yang dihubungkan dengan asal-muasal sesuatu di suatu tempat atau daerah. Contoh: Tangkuban Perahu, Malin Kundang, Asal-muasal Candi Perambanan, dll.
Mite
Mite atau mitos adalah kisah yang berlatarbelakang sejarah namun mengandung hal-hal mistis dan gaib yang dipercaya oleh masyarakat penganutnya
Prosa Dilihat dari Isi dan Struktur Cerita
Dari segi isi cerita, prosa terdapat dua kategori. Yakni, prosa fiksi dan nonfiksi. Kalian pasti sudah tahu apa beda fiksi dan nonfiksi kan? Ya, prosa fiksi sudah pasti berisi khayalan atau cerita rekaan. Meskipun di dalamnya misalnya ada nama-nama tokoh yang mirip, atau ada kisah-kisah nyata yang diangkat, hal itu hanya dijadikan inspirasi saja. Artinya, yang diceritakan tidak 100 persen berasal dari kenyataan. Sedangkan prosa nonfiksi bercerita tentang fakta-fakta dan kenyataan.Struktur cerita prosa seperti kita ketahui yakni terdiri atas tema, fakta cerita (alur, penokohan, latar), dan pusat pengisahan serta konflik. Unsur-unsur tersebut membangun prosa menjadi sebuah karya sastra yang utuh. Unsur tersebut juga saling terkait satu sama lain. Ibarat bangunan, maka unsur-unsur itu merupakan bahan-bahan yang bergabung menjadi satu kesatuan yang kemudian kita sebut sebagai karya prosa.
1. Unsur Tema dan Pokok Pikiran
Tema adalah pokok pikiran kita kenal juga sebagai sebuah dasar cerita. Bagian ini adalah fondasinya. Maka, setiap cerita semestinya punya tema dan pokok yang kuat agar ke depannya dapat menjadi karya yang kuat. Dalam penulisan prosa pada umumnya, terdapat dua pola dalam penentuan tema atau topik.
Pertama yaitu pola istana-sentris. Dan kedua, yaitu pola masyarakat-sentris. Sebagai fondasi sebuah cerita, tema akan menggambarkan keseluruhan isi cerita. Selain itu, tema juga akan memengaruhi bagaimana sudut pandang terhadap masalah itu dan bagaimana penyelesaian konflik di dalamnya. Tema juga kemudian berkaitan dengan alur cerita dan konflik.
2. Unsur Fakta Cerita
Fakta dalam karya prosa terbagi menjadi tiga: alur, penokohan, dan latar. Alur cerita yaitu rangkaian peristiwa atau rangkaian plot dalam cerita. Rangkaian ini mesti dijalin sedemikian rupa agar cerita dapat tersampaikan dengan jelas dan mudah.
Sementara penokohan dalam prosa yaitu berkaitan dengan karakter yang ada di dalam cerita, mulai dari hewan, tumbuhan, juga manusia. Kemudian latar berkaitan dengan keterangan tempat dan waktu terjadinya peristiwa dalam cerita yang disusun.
3. Unsur Sarana Sastra
Sarana sastra dalam karya sastra prosa terbagi menjadi dua, yakni pusat pengisahan dan konflik. Pusat pengisahan artinya sudut cerita atau peristiwa. Jadi, seperti apa cerita itu dikisahkan, siapa yang menceritakan? Dalam karya sastra umumnya kita kenal juga istilah sudut pandang atau point of view. Nah, antara pusat pengisahan dan sudut pandang memiliki hubungan yang kelindan satu sama lain. Apakah pakai “aku” yang terlibat dalam cerita atau menjadi pencerita di luar cerita?
Tanpa adanya konflik, cerita akan garing dan tak berkesan. Tidak menarik. Bahkan, bisa jadi tidak berdampak bagi pembaca. Konflik mesti dibuat menarik dan bertahap. Jadi ada tahapan seperti pemicu konfliknya apa, kemudian bagaimana konflik berlangsung, sampai klimaks yang didapatkan memuncak. Di puncak itulah konflik akan terasa seperti membawa pembaca ke dalam inti cerita dengan sedalam-dalamnya. Sehingga secara emosional pembaca dapat terjerumus ke dalam prosa.
Komentar
Posting Komentar