Pendekatan Objektif dan Mimetik

 NAMA : ATHALILAH NUR ZUBAID 

NIM : 22016088

PRODI : PENDIDIKAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA DAN DAERAH

PENDEKATAN OBJEKTIF DAN MIMETIK

A. PENDEKTAN OBJEKTIF

Konsep Dasar  Pendekatan Objektif

Pendekatan struktural dipelopori oleh kaum Formalis Rusia dan Strukturalisme Praha, yang mendapat pengaruh langsung dari teori Saussure yang mengubah studi linguistik dari pendekatan diakronik ke sinkronik. Studi linguistik tidak lagi ditekankan pada sejarah perkembangannya, melainkan pada hubungan antar unsurnya. Masalah unsur dan hubungan antarunsur merupakan hal yang penting dalam pendekatan ini  (Nurgiyantoro, 2000:36). Aliran ini muncul dengan teori strukturalisme yang dikemukakan oleh anthropolog Perancis, Claudio Levi  Strauss. Teori ini dikembangkan dalam linguistik oleh  Ferdinand de Saussure dengan bukunya Cours de Linguistique Generale.(Djojosuroto, 2006: 33)

Pendekatan Objektif adalah pendekatan yang memberi perhatian penuh pada karya sastra sebagai struktur yang otonom,   karena itu tulisan ini mengarah pada analisis karya sastra secara strukturalisme. Sehingga pendekatan strukturalisme  dinamakan juga pendekatan objektif.  Semi (1993:67) menyebutkan bahwa pendekatan struktural dinamakan juga pendekatan objektif, pendekatan formal, atau pendekatan analitik. Strukturalisme berpandangan bahwa untuk menanggapi karya sastra secara objektif haruslah berdasarkan pemahaman terhadap teks karya sastra itu sendiri. Proses menganalisis diarahkan pada pemahaman terhadap bagian-bagian karya sastra dalam menyangga keseluruhan, dan sebaliknya bahwa keseluruhan itu sendiri dari bagian-bagian (Sayuti, 2001; 63). , Oleh  karena itu, untuk memahami maknanya, karya sastra harus dianalisis berdasarkan strukturnya sendiri, lepas dari latar belakang sejarah, lepas dari diri dan niat penulis, dan lepas pula dari efeknya pada pembaca. Mengacu istilah Teeuw (1984:134) , jadi yang penting hanya close reading, yaitu cara membaca yang bertitik tolak dari pendapat bahwa setiap bagian teks harus menduduki tempat di dalam seluruh struktur sehingga kait-mengait secara masuk akal ( Pradotokusumo, 2005 : 66) .

Jeans Peaget dalam Suwondo (2001:55) menjelaskan bahwa di dalam pengertian struktur terkandung tiga gagasan , Pertama, gagasan keseluruhan (whoneles), dalam arti bahwa bagian-bagian menyesuaikan diri dengan seperangkat kaidah intrinsik yang menentukan baik keseluruhan struktur maupun bagian-bagiannya. Kedua, gagasan transformasi (transformation), yaitu struktur itu menyanggupi prosedur transformasi yang terus-menerus memungkinkan pembentukan bahan-bahan baru. Ketiga, gagasan mandiri (Self Regulation), yaitu tidak memerlukan hal-hal dari luar dirinya untuk mempertahankan prosedur transformasinya. Sekaitan dengan itu Aristoteles dalam   Djojosuroto (2006 : 34)  menyebutkan adanya empat sifat struktur, yaitu: order (urutan teratur),  amplitude (keluasan yang memadai),  complexity (masalah yang komplek), dan unit (kesatuan yang saling terjalin)

Sejalan dengan konsep dasar di atas, Suwondo (2001:55) berpendapat memahami sastra strukturalisme berarti memahami karya sastra dengan menolak campur tangan dari luar. Jadi memahami karya sastra berarti memahami unsur-unsur yang membangun struktur. Dengan demikian analisis struktur bermaksud memaparkan dengan cermat kaitan unusr-unsur dalam sastra sehingga menghasilkan makna secara menyeluruh.  Rene Wellek  (1958 : 24) menyatakan bahwa analisis sastra harus mementingkan segi intrinsik. Senada dengan pendapat tersebut Culler memandang bahwa karya sastra bersifat otonom yang maknanya tidak ditentukan oleh hal di luar karya sastra itu ( Culler, 1977:127). Istilah lainnya anti kausal dan anti tinjauan historis (Djojosuroto, 2006:35)

Analisis karya sastra dengan pendekatan strukturalisme memiliki berbagai kelebihan, diantaranya (1) pendekatan struktural memberi peluang untuk melakukan telaah atau kajian sastra secara lebih rinci dan lebih mendalam, (2)  pendekatan ini mencoba melihat sastra sebagai sebuah karya sastra dengan hanya mempersoalkan apa yang ada di dalam dirinya, (3) memberi umpan balik kepada penulis sehingga dapat mendorong penulis untuk menulis secara lebih berhati-hati dan teliti (Semi, 1993: 70). Selain memiliki beberapa kelebihan, pendekatan inipun  mengandung berbagai  kelemahan. Secara terinci Teeuw menjelaskan empat kelemahan strukturalisme murni , yakni: 1) strukturalisme belum mengungkapkan teori sastra yang lengkap, 2) karya  sastra  tidak dapat diteliti secara terasing dan harus dipahami dalam suatu sistem satra dengan latar belakang sejarahnya, 3) adanya unsur objektif dalam karya sastra disangsikan karena peranan  pembaca cukup  dalam turut memberi makna, 4) penafsiran puisi yang menitikberatkan otonomi puisi menghilangkan konteks dan fungsinya sehingga puisi dimenaragadingkan dan kehilangan relevansi sosialnya (Teeuw, 1984 : 176). Sekaitan dengan itu  Scholes dalam Sayuti (2001:64) menyatakan bahwa strukturalisme menghadapi bahaya karena dua hal pokok, yaitu (1) tidak memiliki kelengkapan sistematis yang justru menjadi tujuan pokoknya, (2) menolak makna atau isi karya sastra dalam konteks kultural di seputar sistem sastra. Hal ini disebabkan  karena analisis struktural itu merupakan kesatuan yang bulat dan utuh, tidak memerlukan pertolongan dari luar struktur, padahal karya sastra itu tidak terlepas dari situasi kesejarahannya, kerangka sosial budayanya. Di samping itu peran pembaca sebagai pemberi makna karya sastra tidak dapat diabaikan.   Kendati mengandung berbagai kelemahan Teeuw (1983:61) berpendapat bahwa bagaimanapun juga analisis struktural merupakan tugas prioritas bagi serorang peneliti sastra sebelum ia melangkah pada hal-hal lain. Jadi, untuk memahami karya sastra secara optimal, pemahaman terhadap struktur merupakan tahap yang sukar dihindari.  Akibat adanya berbagai kelemahan itulah kemudian para kritikus mengembangkan model-model pendekatan lain sebagai reaksi strukturalisme dengan tetap mempertahankan prinsip struktur dan membuang prinsip otonomi yang dijelaskan dalam strukturalisme murni, seperti semiotik dan dekonstruksi.

Pada intinya, teori strukturalisme beranggapan karya sastra itu merupakan sebuah struktur yang unsur-unsurnya saling berkaitan. Sehingga unsur-unsurnya itu tidak mempunyai makna dengan sendirinya, maknanya ditentukan oleh saling keterkaitan dengan unsur-unsur lainnya sehingga membentuk totalitas makna. Adapun  tujuannya adalah mendeskripsikan secermat mungkin keterkaitan semua unsur karya sastra yang secara bersama-sama sehingga menghasilkan makna karya sastra secara menyeluruh. Sebagai konsekuensi terhadap pandangan yang menganggap karya sebagai sesuatu yang otonom ,bagian selanjutnya adalah bagaimana menerapkannya dalam menganalisis karya sastra khususnya puisi ?

Penerapan Pendekatan Objektif

Pendekatan ini lebih banyak digunakan dalam bidang puisi (Jefferson, 1982:84)  Tulisan  ini pun bermaksud menerapkan pendekatan objektif dalam menganalisis puisi. Dalam lingkup puisi , Pradopo (2000: 14) menguraikan bahwa karya sastra itu tak hanya merupakan satu sistem norma, melainkan terdiri dari beberapa strata (lapis) norma. Masing-masing norma menimbulkan lapis norma dibawahnya. Mengacu pendapat Roman Ingarden, seorang filsuf Polandia, Rene Wellek dalam Pradopo (2000:14) menguraikan norma-norma itu , yaitu (1) lapis bunyi  (sound stratum), misalnya bunyi suara dalam kata,frase, dan kalimat,(2) lapis arti (units of meaning), misalnya arti dalam fonem, suku kata, kata, frase, dan kalimat, (3) lapis objek, misalnya objek-objek yang dikemukakan seperti latar, pelaku, dan dunia pengarang. Selanjutnya Roman Ingarden masih menambahkan dua lapis norma lagi (1) lapis dunia , dan (2) lapis metafisis.

Waluyo (1987: 145)  menjelaskan, struktur puisi dibangun oleh struktur fisik (metode pengucapan makna) dan struktur batin (makna) puisi.

Secara sederhana, penerapan pendekatan objektif dalam menganilis karya sastra dalam hal ini Puisi , dapat diformulasikan sebagai berikut . Pertama,  mendeskripsikan unsur-unsur struktur karya sastra. Kedua, mengkaji keterkaitan makna  antara unusr-unsur yang satu dengan lainya. Ketiga, mendeskripsikan fungsi serta hubungan antar unsur (intrinsik) karya yang bersangkutan . Adapun langkah-langkah menelaah puisi dapat melalui tahap-tahap yang dikemukakan oleh Waluyo ( 1987: 146), tahap 1) menentukan struktur karya sastra, 2) menentukan penyair dan kenyataan sejarah, 3) menelah unsur-unsur, dan 4) sintesis dan interpretasi.  Dengan empat tahap  tersebut, diharapkan puisi dapat dipahami sebagai struktur dan sebagai suatu kesatuan yang bulat dan utuh.  Sejalan dengan itu Djojosuroto (2006:60) mengemukakan analisis strategi pemahaman puisi. Strategi tersebut dimulai dengan : 1)  pemahaman makna kata, 2) pemahaman baris dan bait, dan 3) pemahaman totalitas makna.

 

B. PENDEKATAN MIMETIK

Istilah mimetik berasal dari bahasa Yunani ‘mimesis’ yang berarti ‘meniru’,‘tiruan' atau ‘perwujudan’. Secara umum mimetik dapat diartikan sebagai suatu pendekatan yang memandang karya sastra sebagai tiruan atau pembayangan dari dunia kehidupan nyata. Mimetik juga dapat diartikan sebagai suatu teori yang dalam metodenya membentuk suatu karya sastra dengan didasarkan pada kenyataan kehidupan sosial yang dialami dan kemudian dikembangkan menjadi suatu karya sastra dengan penambahan skenario yang timbul dari daya imajinasi dan kreatifitas pengarang dalam kehidupan nyata tersebut.

Pengertian mimetik menurut para ahli:

a. Plato Mengungkapkan bahwa sastra atau seni hanya merupakan peniruan (mimesis) atau pencerminan dari kenyataan.

b. Aritoteles Ia berpendapat bahwa mimetik bukan hanya sekedar tiruan, bukan sekedar potret dan realitas, melainkan telah melalui kesadaran personal batin pengarangnya

c. Raverzt Berpendapat bahwa mimetik dapat diartikan sebagai sebuah pendekatan yang mengkaji karya sastra yang berupay auntuk mengaitkan karya sastra dengan realita satau kenyataan.

d. Abrams Mengungkapkan pendekatan mimetik adalah pendekatan kajian sastra yang menitik beratkan kajiannya terhadap hubungan karya sastra dengan kenyataan di luar karya sastra.

 
Sejarah Mimetik

  • Pandangan tentang mimetic pertama kali diungkapkan oleh filsuf terkenal yaitu Plato yang kemudian diungkapkan lagi oleh muridnya yaitu Aristoteles. Plato berpendapat bahwa seni hanyalah tiruan alam yang nilainya jauh di bawah kenyataan dan ide. Menurutnya lagi, seni adalah sesuatu yang rendah, yang hanya menyajikan suatu ilusi tentang kenyataan dan tetap jauh dari kenyataan.
  • Berbeda dengan Plato, Aristoteles menyatakan bahwa tiruan itu justru membedakannya dari segala sesuatu yang nyata dan umum karena seni merupakan aktivita smanusia. Dalam sebuah penciptaan sastrawan tidak semata-mata meniru kenyataan melainkan sekaligus menciptakan.
  • Mimetik berasal dari  bahasa Yunani ‘mimesis’  yang berart itiruan. Dalam hubungannya dengan kritik sastra mimetic diartikan sebagai sebuah pendekatan yang dalam mengkaji karya sastra selalu berupaya untuk mengaitkan karya sastra dengan realitas atau kenyataan. Perbedaan pandangan Plato dan Aristoteles menjadi sangat menarik karena keduanya merupakan awal filsafat alam, merekalah yang menghubungkan antara persoalan filsafat dengan kehidupan (Ravertz, 2007: 12).
  • Pengertian mimesis (Yunani: perwujudan atau peniruan) pertama kali dipergunakan dalam teori-teori tentang seni seperti dikemukakan Plato (428-348) dan Aristoteles (384-322), dan dari abad ke abad sangat memengaruh iteori-teori mengenai seni dan sastra di Eropa (Van Luxemburg, 1986:15). 


Tokoh-Tokoh Teori Mimetik

1. Plato (427-347 SM) 
Dilahirkan di lingkungan keluarga bangsawan kota Athena. Semenjak muda ia sangat mengagumi Socrates (470-399), seorang filsuf yang menentang ajaran parasofis, sehingga pemikiran Plato sangat dipengaruhi sosok yang di kemudian hari menjadi gurunya tersebut.  Salah satu pemikiran pemikiran Plato yang terkenal ialah pandangannya mengenai realitas .Menurutnya realitas seluruhnya terbagi atas dua dunia: dunia yang terbuka bagi rasio dan unia yang hanya terbuka bagi pancai ndra. Dunia pertama terdiri atas idea-idea dan dunia berikutnya ialah dunia jasmani .Bahkan pemikiran Plato tersebut bahkan berhasil mendamaikan pertentangan antara pemikiran Hera Kleitosdan Parmenides (Bartness.1979:14). Pandangan Plato mengenai dunia tersebut sterkait juga dengan konsep mimesis.

Aristoteles (384-322)

            Lahir di Stagirus, Macedonia, di daerahTharke, Yunani Utara tahun 384 SM
. Ia belajar di sekolah filsafat yang didirikan Plato dan tinggal di Akademia hingga Plato meninggal dunia.

2. MH (Meyer Howard) Abrams

Lahir di Jewis, 23 juli 1912. Class of 1916 Profesor Emeritus SastraI nggris, telah menjadi anggota dari Departemen Bahasa Inggris di Cornell University sejak  1945. Dia adalah otoritas pada literature abad ke-18 dan 19, kritik sastra, dan Romantisisme Eropa.

Tokoh mimetic lainnya yaitu Levin dan Ravertz.

 

D. TentangTeori Mimetik

Dalam teori mimetic terdapat tiga metode yang dapat digunakan dalam kritik mimetik, yaitu:
1.  kepada kelompok masyarakat tertentu, terutama masyarakat yang disebut dalam karya sastra diberi angket tentang keadaan sosio-budaya masyarakatnya, baik masa lalu maupun masa kini. Angket diolah secara kualitatif, yang ada dalam karya sastra tersebut.

2.  Dengan menghubungkan suatu unsur yang ada dalam karya sastra dengan unsur tertentu bersamaan dengan yang terdapat dalam masyarakat. Sejauh mana unsur-unsur itu benar-benar berfungsi dalam karya sastra, sejauh itu pula hubungan antara karya sastra dengan masyarakat.

3.  Kepada anggota masyarakat tertentu yang diminta membaca karya sastra, diberi beberapa pertanyaan. Pertanyaan diarahkan kepada masalah sosial yang telah bergeser atau hilang dalam masyarakat. Pengolahan secara kualitatif akan dapat menjawab tentang hubungan karya sastra dengan keadaan sosialnya.

 

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pendidikan Sastra

Pendekatan Mimetik, Ekspresif dan Pragmatik