Kaidah Sastra
NAMA: ATHALILAH NUR ZUBAID
NIM: 22016088
PRODI: PENDIDIKAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA DAN DAERAH
KAIDAH SASTRA
Waluyo, (1994:56-58) mengatakan bahwa kaidah
sastra atau daya tarik sastra terdapat pada unsur-unsur karya sastra tersebut.
Pada karya cerita fiksi, daya tariknya terletak pada unsur ceritanya yakni
cerita dari tokoh-tokoh yang diceritakan sepanjang cerita. Selain itu, faktor
bahasa juga memegang peranan penting dalam menciptakan daya pikat. Khusus pada
cerita fiksi, ada empat hal lagi yang membantu menciptakan daya tarik suatu
cerita rekaan,yaitu kreativitas, tegangan, konflik, dan jarak.Uraian keempatnya
, bagaimana dikutip dari Waluyo (1994:58-60) .
1. Kreativitas
Tanpa kreativitas, karya sastra yang
diciptakan pengarang tidak mungkin menempati perhatian pembaca. Kreativitas
ditandai dengan adanya penemuan baru dalam proses penceritaan. Pengarang
biasanya menunjukkan daya kreativitas yang membedakan karyanya dengan karya
yang mendahului. Dalam sejarah sastra Indonesia para pembaharu sastra Indonesia
yang menunjukkan daya kreativitas mereka seperti Marah Rusli ( Siti Nurbaya),
Abdul Muis ( Salah Asuhan), Sutan Takdir Alisyahbana ( Layar Terkembang),
Armijn Pane ( Belenggu), Achdiat Kartamiharja (Atheis), Mochtar Lubis (Jalan
Tak Ada Ujung) , dan sebagainya.
Penemuan – penemuan hal yang baru
itu mungkin melalui peniruan terhadap karya yang sudah ada dengan jalan
memperbaharui, namun mungkin juga melalui pencarian secara modern untuk
menemukan sesuatu yang baru, untuk tidak hanya mengulang apa yang sudah
diungkapkan oleh pengarang lain.
2. Tegangan ( Suspense )
Jalinan cerita yang menimbulkan rasa
ingin tahu yang besar dari pembaca merupakan tegangan cerita. Tegangan bermula
dari ketidakpastian cerita yang berlanjut, yang mendebarkan pembaca atau
pendengar cerita. Tegangan diakibatkan oleh kemahiran pencerita didalam
merangkai kisah dan pencerita mampu mempermainkan hasrat ingin tahu pembaca.
Terkadang segenap pemikiran dan perasaan pembaca terkonsentrasi ke dalam cerita
itu, karena kuatnya tegangan ynag dirangkai oleh penulis. Dalam menjawab hasrat
ingin tahu pembaca , penulis memberikan jawaban-jawaban yang mengejutkan.
Pengarang – pengarang cerita besar seperti Agata Christie, Sherlock Holmes,
Pramudya Ananta Toer, dan sebagainya mampu menciptakan jawaban-jawaban cerita
yang penuh kejutan sehingga ceritanya memiliki suspense yang memikat.
3. Konflik
Konflik yang dibangun dalam sebuah
cerita harus bersifat wajar dan kuat. Konflik yang wajar artinya konflik yang
manusiawi , yang mungkin terjadi dalam kehidupan ini dan antara kedua orang
yang mengalami konflik itu mempunyai posisi yang kurang lebih seimbang. Jika
posisinya tidak seimbang , maka konflik menjadi tidak wajar karena pembaca
segera akan menebak kelanjutan jalan ceritanya. Konflik itu juga harus kuat.
Dalam kisah kehidupan sehari-hari,
konflik yang kuat biasanya berkaitan dengan problem manusia yang penting dan
melibatkan berbagai aspek kehidupan. Roman Salah Asuhan dan Belenggu memiliki
konflik yang begitu kuat karena problem yang menyebabkan konflik itu adalah
problem hakiki dalam kehidupan. Hal ini berbeda dengan konflik yang dibangun
melalui cerita wayang. Karena tokohnya hitam putih,maka konflik dalam cerita
wayang segera dapat ditebak jawabannya.
4. Jarak Estetika
Daya pikat sebuah cerita fiksi juga muncul akibat pengarang
memiliki jarak estetika yang cukup pekat dengan cerita dan tokoh-tokoh cerita
itu. seolah – olah pengarang menguasai benar dunia dari tokoh cerita itu,
sehingga pengarang ikut terlibat dalam diri tokoh dan ceritanya. Jika keadaan
ini dapat dilakukan pengarang ,pembaca akan lebih yakin akan hadirnya cerita
dan tokoh. Seakan-akan cerita fiksi itu bukan hanya tiruan dari kenyataan saja.
Seperti halnya dalamcerita Mushashi, pembaca akan merasa
ikut terlibat dalam peristiwa-peristiwa karena kekuatan cerita itu. Ketika
adegan terakhir Mushashi mengalahkan Sasaki Kojiro, pembaca mungkin akan merasa
menyaksikan dua ksatria bertempur di tepi Parangtritis, di siang hari ketika
matahari terik, dan tiba-tiba Mushashi melompat menghantam kepala Kojiro dengan
pedang. Ini dpat terjadi karena kekuatan cerita yang pengarang ciptakan dengan
membuat jarak estetis yang cukup rapat sehingga tokoh dan peristiwa benar-benar
hidup.
Komentar
Posting Komentar